Khamparan.com | Kuala Tungkal — Kondisi toilet umum di Sentra Kuliner Serambi Tungkal, salah satu pusat kuliner yang ramai dikunjungi masyarakat Kuala Tungkal, menuai sorotan. Fasilitas umum tersebut ditemukan dalam kondisi gelap, tanpa air mengalir, berbau tidak sedap, serta minim perawatan, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Kondisi tersebut diamati langsung Khamparan.com saat melakukan pemantauan di lokasi pada Minggu (12/7/2026).
Berdasarkan dokumentasi yang diperoleh, sejumlah persoalan terlihat jelas, di antaranya pencahayaan toilet yang tidak memadai, tidak tersedianya air mengalir dari keran sehingga pengunjung terpaksa menggunakan botol air mineral, bau menyengat, serta dinding dan lantai yang dipenuhi kerak dan noda yang menunjukkan minimnya perawatan.
Sebagai sentra kuliner yang menjadi tempat berusaha puluhan pelaku UMKM dan dikunjungi masyarakat hampir setiap malam, keberadaan fasilitas sanitasi yang layak seharusnya menjadi perhatian serius. Kondisi yang ditemukan di lapangan memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan dan pemeliharaan fasilitas umum di kawasan tersebut.
Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kepala Bidang Perdagangan dan Pasar (Diskopperindag) Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Marhalim, mengakui bahwa pihaknya telah lama mengetahui persoalan tersebut. Ia mengatakan evaluasi terhadap Sentra Kuliner Serambi Tungkal terus dilakukan dan ke depan Disperindag berencana membentuk kepengurusan agar pengelolaan kawasan kuliner tersebut lebih tertata.
"Sudah lama kami mengetahui kondisi itu. Evaluasi terus kami lakukan. Ke depan akan dibentuk pengurus untuk pengelolaannya agar lebih baik," ujarnya.
Marhalim juga menyebutkan bahwa di lokasi sebenarnya telah tersedia petugas kebersihan yang bertugas menjaga kebersihan kawasan.
Namun demikian, kondisi yang ditemukan Khamparan.com di lapangan menunjukkan toilet masih dalam keadaan gelap, tidak memiliki air mengalir, berbau, dan tampak kurang terawat. Perbedaan antara evaluasi yang diklaim terus dilakukan dengan kondisi nyata di lapangan menjadi sorotan dan menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana efektivitas pengawasan serta tindak lanjut yang telah dilakukan.
Rencana pembentukan pengurus memang menjadi langkah yang patut diapresiasi. Namun, mengingat persoalan tersebut diakui telah diketahui sejak lama, masyarakat tentu berharap solusi yang dihadirkan tidak berhenti pada sebatas rencana, melainkan segera diwujudkan melalui perbaikan nyata terhadap fasilitas dasar yang setiap hari digunakan pedagang dan pengunjung.
Minimnya perhatian terhadap fasilitas sanitasi tidak hanya berpotensi mencoreng citra Serambi Tungkal sebagai destinasi kuliner andalan Kuala Tungkal, tetapi juga dapat memengaruhi kenyamanan serta kesehatan masyarakat yang memanfaatkan fasilitas umum tersebut. Pada akhirnya, keberhasilan pengawasan tidak diukur dari seberapa sering evaluasi dilakukan, melainkan dari perubahan nyata yang dapat dirasakan masyarakat di lapangan.
(KK)
